“Di Galeri itu, aku pertama kali melihat gitar Fender Stratocaster American Standar. Performance-nya indah, dengan suara yang menakjubkan mampu menyuntik pendengarnya jika ia dimainkan oleh seorang gitaris profesional.”
”Apa...10 juta?” Suara ayah yang sedikit keras mengagetkan Ibu yang sibuk dengan sulamannya”.
”Iya ayah, bisa tidak?” ucap ku.
”Darimana ayah punya uang sebanyak itu, dan kalaupun ada, ayah tidak mungkin kasih cuma untuk beli gitar. Ada banyak kebutuhan, Ayah fikir kamu sudah paham tentang itu.”
Ayah berdiri dihadapanku, ia memegang pundakku. Ibu yang kaget mendengar suara ayah, hanya memperhatikan kami dari kursi malasnya, dengan tidak mengalihkan konsentrasi dari sulamannya.
”Tapi dengan 10 juta itu, Nada akan menghasilkan karya yang sempurna ayah, dan semua materi akan kembali bahkan berkalilipat”.
Aku masih berupaya membujuk ayah mau memberikan impian terbesarku. Ku lihat wajahnya memerah, mungkin ayah akan marah, atau sekedar kesal denganku, dan bukan tidak mungkin ayah akan menitikkan airmatanya karena tidak tahan denganku. Aku tidak ingin menerka, kupegang tangan ayah, kumerunduk, tak dapat kuangkat wajahku untuk memandang wajahnya.
”Ayah, dukung Nada” ucapku.
Ayah hanya terdiam, ia tidak merespon ucapanku, ia hanya menarik nafas dalam. Tiba-tiba ibu mengagetkan suasana hening diruang tengah rumah kami dengan melempar sulamannya.
“Ibu sudah sering bilang sama ayah, jangan biarkan putri ini dengan mimpi kosongnya tentang popularitas. Apa yang bisa dilakukan anak band, kamu fikir bisa bertahan hidup dengan profesi itu.” Ibu berjalan ke arahku, ia menarik genggamanku dari tangan ayah.
”Ayah lihat anak kita ini, ia seorang perempuan. Kenapa ayah selalu mendukung keinginannya yang kelaki-lakian itu. Kenapa tidak kita dorong anak ini menjadi perempuan biasa, gak usah pake nge-band nge-band segala.”
Aku hanya bisa tertunduk dengan ucapan ibu, sepertinya ibu akan mengulangi perdebatan lama yang sudah selesai. Sepertinya ibu akan membatalkan kesepakatan yang sudah pernah aku, ayah dan dirinya buat. Aku tahu ayah tidak akan membelaku, sekalipun ia tidak melarang aku menekuni kecintaanku. Aku ingin menjawab ucapan ibu, tapi aku tidak akan berani membantahnya.
“Ini bukan tentang pupularitas ibu, ini tentang berkarya, tentang jiwaku”. Aku mencoba tenang dan mengucap pelan pembelaanku.
Ibu menarik ayah dari hadapanku. Tidak lebih dari sepuluh detik, mereka sudah lenyap. Aku melangkahkan kaki pelan masuk ke kamarku. Mungkin aku akan mengurung diri dikamar, sampai kepenatan ini hilang. Tidak keluar kamar dan sibuk dengan Ibanez second yang kubeli dengan harga 3 juta dua tahun lalu. Sebetulnya satu gitar listrik, dan dua gitar klasik sudah mendukung hobi bermusik ku. Tapi seperti yang diucapkan Revan, master gitarku, untuk bisa menghasilkan karya terbaik, upayakanlah sesuatu yang terbaik.
Denada bisa gantiin Sheeva, nanti gw hubungi dia. Revan menceritakan obrolannya dengan Martin, pentolan band rock “Disturbance“ kepadaku. Aku memang pernah dua kali bertemu Martin dalam ‘Rock Guitar Festival’. Aku menanyakan banyak hal tentang pengalamannya, memiliki jam terbang yang tidak sedikit, menghasilkan banyak karya, dan ia adalah salah satu gitaris berkelas di dunia musik rock Indonesia. “Kita ketemu Martin malam ini. Loe pastiin gak terlambat” Martin mengingatkanku sebelum mengakhiri teleponnya.
Tepat jam tujuh malam, aku keluar kamar dengan Ibanez andalanku. Mengambil kunci motor, dan bergegas keluar rumah. Dari kejauhan suara ayah memanggil. Aku menengok kepadanya, mungkin masih sulit untuk bisa bersikap biasa sejak kejadian lalu. Apalagi ayah sama sekali tidak mengunjungiku yang mengurung diri dikamar. Ibu hanya sekali dua kali mengingatkan untuk makan, dan menanyakan apa tidak ada jadwal kuliah, seolah tidak ada kejadian yang membuatku menjauhi semua.
”Nada, ayah mungkin belum bisa mewujudkan keinginanmu memiliki gitar yang kau impikan. Tapi ayah selalu mendoakanmu, mungkin kau bisa mewujudkannya dengan usahamu, karena ayah selalu mendukungmu dengan segala keterbatasan ayah.”
Aku belum melihat ekspresi ayah, aku hanya menghentikan langkahku sebelum membuka pagar rumah. Aku mencoba memutar tubuhku ke arah ayah. Kulihat setetes airmata membuat basah pipinya. Aliran darahku seperti berhenti, jantungku sesak. Kejadian ini terakhir kurasakan dua tahun yang lalu, ketika ayah dan ibu saling berargumen tentang masa depanku. Tentang penentangan ibu atas hobi bermain gitarku, yang semua diakhiri dengan kesepakatan prestasi kuliahku akan tetap berjalan seiring hobi dan mimpiku.
Aku berlari, kudekap tubuh ayah erat, aku memeluknya. Aku mungkin tidak bisa mewujudkan keinginan ayah, aku mungkin terlalu ego dengan mimpiku. Aku mungkin terlalu sering membuat ayah berfikir keras tentangku, lebih dari apa yang orangtua lain lakukan.
”Nada merasa apa yang sudah ayah berikan, lebih dari apa yang diberikan orangtua lain pada anaknya. Doakan Nada, mungkin Nada akan mampu mewujudkan mimpi dengan usaha Nada sendiri.” Ucapku pelan ditelinga ayah.
Revan berdiri didepan pintu studio ”Efex’. Ia menghisap rokoknya dalam, kebiasaan yang aku sering ingatkan untuk dikurangi. Aku memarkir motorku, kulangkahkan kaki menghampiri Revan.
”Martin udah datang?” tanyaku
”Lima menit lagi, udah di daerah Mahakam katanya.” Revan membuang puntung rokoknya. Kami bergegas ke dalam ruangan.
”Persiapan apa yang perlu gw lakuin Van?” Tanyaku
”Main aja sebagusnya, gaya loe, pokoknya orisinil” jawab Revan. Martin suka yang orisinil, and karena Sheeva itu terkenal tapping-nya. Loe mesti mainin tapping terbaik loe.”
”Ok” jawabku singkat
”Loe pernah liat Sheeva main kan?”
”Iya, waktu di festival tujuhpuluh”
“Great, nanti loe bawa DVD gw, ada video Sheeva. Loe perhatiin and pelajarin tekniknya.”
“Ok master”. Kulempar senyum mengembangku pada Revan, yang berarti aku paham betul dengan intruksinya.
Selang sepuluh menit, Martin sampai distudio. Berpenampilan celana belel yang robekannya disana disini, T-shirt hitam dengan warna yang hampir luntur, dan boot besar, ia sangat memperlihatkan penampilan rockernya. Martin adalah gitaris yang terkenal dengan teknik downstrokes yang sangat fantastik dari Krammer yang digunakannya.
”Hallo sob” ucapnya ada Revan
”Hallo bung Martin. Ini Denada, yang udah gw siapin buat Disturbance.” Revan memperkenalkanku pada Martin. Aku menjabat tangannya.
“Hallo Denada, kita udah pernah ketemu kan” Ucap Martin.
“Iya bang, kita sempet ngobrol.” Jawabku
”Ya...ya..gw inget di festival. Loe cewek memukau dengan teknik tapping yang banyak nanya itu kan”
”Wah, abang masih inget aja.”
”Ok, kita bisa mulai latihan sekarang. Gw gak bisa lama-lama soalnya.”
Kami memasuki studio, setelah kurang lebih empat jam di ruangan, Martin mengakhiri sesi latihan malam itu. ”kita ketemu dua hari lagi dijam yang sama”, ucapnya sambil melangkah keluar ruangan. Aku membereskan gitarku, dan bergegas menuju parkir motor. Besok aku ada kuliah pagi, jadi malam ini harus segera ditutup dengan istirahat, agar esok aku fit untuk mengikuti perkuliahan.
Sesampainya di studio Efex, kulihat mobil yang biasa membawa personel Disturbance terparkir. Wah, Martin udah sampai nih, bisikku dalam hati. Aku mempercepat langkah setelah kupastikan motorku aman ditempat parkir. Di studio, Martin sedang sibuk menstem gitarnya, Revan tidak ada, kemana dia, fikirku dalam hati.
”Udah lama bang?” Tanyaku menghentakkan perhatian Martin dari gitarnya.
”Lumayan, kebetulan gw dari Bulungan tadi, jadi langsung aja kesini.” Jawab Martin.
”Abang udah ketemu Revan?” Tanyaku.
”Dia lagi ke mobil gw ngambil gitar”.
”Oh..” Jawabku pelan sambil mengeluarkan gitarku.
”Gak usah dipasang FX nya”. Ucap Martin tiba-tiba.
”Kenapa bang?” Tanyaku.
”Tunggu Revan sebentar”.
Dari pintu studio Revan masuk dengan gitar warna hitam dipunggungnya. Aku memperhatikan gitar yang dibawanya, aku yakin aku mengenalnya, dengan ujung kepala bundar melengkung, tuner berderet formasi empat atas, dua bawah. Percis seperti yang kulihat di galeri, gitar yang dibawa Revan, Fender Stratocaster American Standar. Revan menghampiri Martin.
”Yang ini bung?” Ucapnya pada Martin.
”Ya” Jawabnya singkat.
Revan mendekatiku, diletakkannya gitar itu diatas tumpuan kakiku. Aku hanya memandangnya tak mengerti. Kualihkan wajahku pada Martin, yang tersenyum kepadaku.
”Itu untuk gitaris additional Disturbance. Untuk teknik tapping yang sempurna, loe harus pake Fender. Ibaneznya disimpan aja dulu.” Ucap Martin kepadaku.
”Jadi, gw pake ini dulu bang?’ tanyaku
”Iya, buat acara nanti.”
”Ok bang” jawabku
”Dirawat yang bener”
”Siip bang, begitu selesai manggung langsung gw balikin ke Revan.”
”Gak usah” jawab Martin.
Aku tidak mengerti dengan jawaban Martin, masih kulihat pandangannya memperhatikanku.
”Maksud abang?” tanyaku
”Fender Stratocaster American Standar itu buat loe. Bisa loe pake buat seterusnya. Anggap aja hadiah dari gw buat seorang talented, Denada”
”Abang serius?” aku kembali memperjelas pernyataan Martin.
Aku berupaya meyakinkan diriku, masih kupegang gitar itu, mataku tak lepas dari Martin dihadapanku. Ia mambalas pandanganku dengan senyuman mengembang diwajahnya. Revan menghampiriku, aku yakin ia pasti menyadari betapa kagetnya aku. Ravan merangkulku, ia melihat kepadaku.
”Gitar itu buat seorang Denada. Yang berjuang untuk mimpinya, yang gak pernah berhenti belajar untuk berkarya. Martin bilang dia suka banget loe, cerdas, muda, talented, good technique. Di seneng banget bisa bawa loe manggung bareng Disturbance, apalagi loe bisa lebih asik dari Sheeva. Jadi Fender ini layak banget buat loe.” Ucap Revan.
Aku hanya bisa berterima kasih pada Revan, dan tentu saja pada Martin. Aku sungguh tidak menyangka, Fender Stratocaster American Standar impianku, kini sudah digenggamanku. Ini akan menjadi kabar yang menenangkan untuk ayah, bisiku dalam hati.
Jumat, 14 November 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar